Ekspektasi kadang datang lebih awal dan dengan mudah menjadi sangat tinggi, sedangkan realita yang ada seakan menghempaskan Anda ke jurang yang sangat dalam dan melarang Anda untuk dapat bangkit kembali. Saya merasakan, sangat, bagaimana kejamnya kehadiran dari ekspektasi dan realita ini. Namun ekspektasi, yang tentunya datang dari sebuah harapan dan sebuah kenyataan adalah hal yang saling berkaitan dalam hidup ini. Bisa saja, tidak ada yang dapat hidup tanpanya, bahkan hanya salah satu dari mereka. Jika dipikir-pikir, sangatlah tidak mudah untuk dapat sekedar bertahan hidup dengan utuh dengan kesehatan fisik, psikis, dan harapan di dalamnya. Sekejam itu.
"Tak akan ada hasil yang mengkhianati proses."
-Anonymous-
Kutipan tersebut tentunya sudah tidak asing di telinga Anda, kan? Dengan keadaan saya khususnya saat saya sedang menulis artikel ini, karna benar benar sedang down (fresh dari perasaan terdalam), "Sampah!" itu yang terlintas di pikiran saya. Maksud saya, quotes tersebut hanya sekedar sampah, tak berguna, yang digunakan oleh orang-orang yang takut akan realita yang akan datang ditengah ketidak pastian yang melanda. Munafik bagi saya, untuk menguatkan diri sendiri, disaat Anda sebenarnya sedang berharap terlalu tinggi terhadap sesuatu.
Kecewa, itu yang benar-benar saya rasakan saat menulis ini. Seakan semua yang saya punya, terambil begitu saja. Harapan, semangat, materi, janji-janji, kebahagiaan, semua terambil begitu saja dalam hitungan detik mungkin, namun disertai perjuangan ditengah ketidak pastian yang cukup memakan waktu dan menguras tenaga, serta biaya tentunya.
Semua bodoh! Terutama saya, yang teramat bodoh, mengambil resiko dan berharap terlalu besar pada apa yang disebut dengan 'ketidak pastian'. Bodoh karena masih berusahaa tegar dan menguatkan diri. Bodoh mengandalkan segenap tulang-tulang saya yang patah untuk dapat menyusun organ dalamnya untuk menjadi satu rangka manusia yang utuh lagi. Bodoh, karena berpikir akan ada seorang malaikat pelindung yang menjamin dan menyelesaikan semuanya. Bodoh karena berpikir, hidup ini mudah, tinggal mengandalkan Tuhan saja. Bodoh! Saya mungkin terlalu bodoh untuk dapat bertahan hidup secara utuh di dunia yang kejamnya tak tertolong seperti ini.
Berlebihan? Iya, sangat. Mungkin ketika saya tidak menanggapinya berlebihan dan cenderung santai-santai saja, masalahnya tidak akan serumit ini. Terkadang, kesedihan yang merupakan jati diri Anda, Anda akan merasa lebih baik, daripada Anda menjadi orang yang sok tegar dan berujung tidak menjadi diri Anda sendiri. Sungguh tekanan yang sangat berat ketika Anda dipaksa untuk tidak menjadi diri Anda sendiri, bukan?
Lalu saya ingin menyalahkan siapa? Tuhan? Hidup saya tidak semenyedihkan itu, sehingga saya menyalahkan Tuhan, yang notabene telah memberikan saya nafas secara gratis dan menyertai saya sepanjang hidup saya. Takdir? Sebenarnya apa itu takdir? Sesuatu yang tidak nyata, bukan? Sesuatu yang menggaris luruskan jalan hidup Anda seakan Anda adalah seorang peramal. Ya, bagi saya, pihak yang patut disalahkan adalah diri sendiri. Tidak dalam cara yang brutal tentunya, sekadar agar kekecewaan internal Anda tidak menyinggung pihak lain dan membuat masalah baru. Bukan sebuah kesalahan atau kelemahan, kok, ketika Anda menganggap diri Anda bodoh. Toh nantinya Anda juga dapat memperbaikinya.
Namun kenyataannya, harapan saya telah hilang. Sekeras apapun saya mencoba bangkit, seakan realita tidak menghendakinya, dan ekspektasi hanya tertawa melihatnya. Disaat seperti ini, tidak ada yang dapat benar-benar menuntun saya, karena sejujurnya jiwa-jiwa seperti ini butuh bukan hanya sekadar dukungan, tetapi juga tuntutan. Karena, dari hati saya yang paling dalam, kecewa dan mencoba mempercayai apa yang tidak dapat kita lihat, termasuk Tuhan, sangatlah sulit. Merasakan keberadaanNya saja saya tak dapat. Salahkah jika kekecewaan saya sedalam itu? Entahlah.
Ketika orang lain bertanya, kenapa saya se-melankolis ini, jawabannya sangatlah sederhana. Saya hampir tidak pernah lagi merasakan bagaimana mendapatkan sesuatu yang benar-benar saya inginkan tanpa kemunculan ekspektasi yang terlalu tinggi. Kehidupan di masa lalu, membuat saya semakin lama semakin rapuh. Semakin mudah untuk dikecewakan, bahkan oleh hal yang tidak terlihat sekalipun, seperti realita. Dan semakin lama semakin rapuh untuk sekadar bertahan hidup secara utuh di dunia ini.
Setidaknya ada yang dapat saya syukuri. Karena di posisi saya yang sedang down saat ini, saya masih bertahan tanpa setetes air mata yang jatuh membasahi pipi saya, dan setidaknya tidak ada satu goresan pun di tangan saya (wah brutal, hanya bercanda wkwkwk), tidak ada pihak manapun yang dirugikan. Mungkin saya kehilangan harapan dan kehilangan kepercayaan diri, namun saya bangga saya masih dapat percaya dan berpegang teguh pada Tuhan tanpa sedikit pun kecewa denganNya (walaupun memang saya tidak berhak sama sekali untuk kecewa denganNya), dan setidaknya kekecewaan saya tetap menghasilkan sesuatu, yaitu satu artikel blog ini.
Semoga tidak bosan membacanya, karena sepenuhnya ini curahan hati saya.
So, don't forget to dreams and reach your own 7th sky.
-Sheefa-