Aku terdiam di ruangan ini. Duduk tegap dengan hati yang hancur tanpa sebuah pegangan. Apa yang kulakukan? Tidak ada. Aku hanya menatap semua kesedihan itu. Seakan mereka menyiapkan strategi untuk menerorku habis-habisan suatu saat nanti. Ya, aku bisa nyatakan ini menjadi semakin buruk.
Aku menatap cermin. Menyaksikan bagaimana mataku menatap dengan kelam sosok dihadapannya. Seseorang yang mencoba bertahan walaupun sudah rapuh. Mata yang dulu pernah menangkap sebuah tatapan. Tatapan tak biasa, yang seakan mengisyaratkan perasaan terpendam; di dalam diri si empunya tatapan. Apa itu hanya perasaanku saja? Aku sama sekali tak tahu.
Ingatan ini mencoba menghadirkan kembali, berbagai hal yang telah terjadi. Aku dulu bukan siapa-siapa. Aku juga sama sekali tak berharap menjadi istimewa. Sampai akhirnya kau mencoba lebih dekat. Ya, kau, yang tadinya berada di depanku, namun sama sekali tak menatapku. Dan kau memilih untuk menatapku. Menangkap mataku dalam tatapanmu. Seakan ingin mengatakan sesuatu yang tertahan di lidahmu, namun sayangnya aku yang tak pernah memahaminya.
Kau sadar akan kesendirianku. Maka, kau memilih untuk menemaniku. Berpura-pura kesepian untuk menghadirkan empati padaku. Dengan melihat namamu di layar ponselku saja sudah lebih dari cukup untukku. Mendengar suaramu seakan membuat luka menjadi tawa. Betapa bahagianya.
Masih tertanam di kepalaku saat ponselku berbunyi dan kau menyempatkan diri menghubungiku ditengah waktumu bersama mereka. Aku tak apa, sungguh.
Juga untuk setiap malam saat aku menghabiskan waktuku bersama mu; dengan kata-katamu tepatnya. Untuk setiap harapan pada 10:10 , 11:11, 00:00. Untuk setiap hal yang ibuku curigai, karena aku lebih bahagia, selama 'bersamamu'; katanya. Sungguh? Aku bahkan tidak menyadarinya. Yang kutahu, aku selalu tersenyum tiap pagi hanya karena 3 buah kata yang kau kirim untukku; kurasa hanya itu..
Dan belakangan kau membuatku menjadi tak diinginkan. Sungguh, melihatmu bersama teman-temanmu membahas gadis hits now-a-day (asik~) di depanku membuatku merasa hanya butiran debu. Aku bukan siapa-siapa memang, namun perasaan ini enggan berbohong; aku cemburu. Tunggu, apa?
Malam itu menjadi malam terberat untukku. Di kota dimana semua kebahagiaanku dimulai, akhirnya aku menitikan air mata. Di tengah keramaian malam, aku merasa tidak nyata. Di tengah dekapan keluargaku, aku merasa hancur berkeping-keping. Mereka mengajakku berlari; untuk apa? Berlari dari luka yang menunggu mendekapku diwaktu yang tepat? Sungguh aku tak siap. Tak siap menerima kenyataan bahwa pengorbananku malam itu sia-sia.
Lucunya diriku menangis karena seorang lelaki. Sekejam itukah? Kurasa tidak. Ini semua salahku untuk terlalu cepat menghidupkan harapan baru. Sudah jelas, dia hanya membutuhkan seseorang untuk menemaninya, dan berani beraninya aku mengira kau menyimpan perasaan juga kepadaku.
Malam itu, semua perhatianku, semua waktu yang sudah kukorbankan untuk mendengarkan kehancuran hatimu, dan semua senyumku rasanya sia-sia. Kau yang sudah menatapku lekat-lekat akhirnya berpaling; tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkanku sendiri lagi, seakan aku patut ditinggalkan semua orang.
Yang aku tahu; Aku bukan siapa siapa, hanya orang yang kau percaya untuk menyimpan kerapuhanmu. Dan ketika kau berpaling dariku, aku tak punya kuasa apa-apa untuk menahanmu, kawan! Kau tahu yang terbaik untukmu, dan senyumku bukan kebahagiaan yang kamu cari. Maaf, aku sempat menyalahkanmu atas kebodohanku.
Suatu saat aku bertemu denganmu, kau menyapaku layaknya teman lama. Seberkas rindu merayap namun terlalu lemah untuk disampaikan. Namun, aku merasa asing. Setelah menghabiskan waktu menyembuhkan luka ini, kau terlihat seakan tidak pernah terjadi apa apa diantara kita. Dan fakta itu membuatku berantakan, kawan!
So don't forget to dream and reach your own 7th sky
Sampai jumpa di entri selanjutnya. Dank Je!
Masih tertanam di kepalaku saat ponselku berbunyi dan kau menyempatkan diri menghubungiku ditengah waktumu bersama mereka. Aku tak apa, sungguh.
Juga untuk setiap malam saat aku menghabiskan waktuku bersama mu; dengan kata-katamu tepatnya. Untuk setiap harapan pada 10:10 , 11:11, 00:00. Untuk setiap hal yang ibuku curigai, karena aku lebih bahagia, selama 'bersamamu'; katanya. Sungguh? Aku bahkan tidak menyadarinya. Yang kutahu, aku selalu tersenyum tiap pagi hanya karena 3 buah kata yang kau kirim untukku; kurasa hanya itu..
Dan belakangan kau membuatku menjadi tak diinginkan. Sungguh, melihatmu bersama teman-temanmu membahas gadis hits now-a-day (asik~) di depanku membuatku merasa hanya butiran debu. Aku bukan siapa-siapa memang, namun perasaan ini enggan berbohong; aku cemburu. Tunggu, apa?
Malam itu menjadi malam terberat untukku. Di kota dimana semua kebahagiaanku dimulai, akhirnya aku menitikan air mata. Di tengah keramaian malam, aku merasa tidak nyata. Di tengah dekapan keluargaku, aku merasa hancur berkeping-keping. Mereka mengajakku berlari; untuk apa? Berlari dari luka yang menunggu mendekapku diwaktu yang tepat? Sungguh aku tak siap. Tak siap menerima kenyataan bahwa pengorbananku malam itu sia-sia.
Lucunya diriku menangis karena seorang lelaki. Sekejam itukah? Kurasa tidak. Ini semua salahku untuk terlalu cepat menghidupkan harapan baru. Sudah jelas, dia hanya membutuhkan seseorang untuk menemaninya, dan berani beraninya aku mengira kau menyimpan perasaan juga kepadaku.
Malam itu, semua perhatianku, semua waktu yang sudah kukorbankan untuk mendengarkan kehancuran hatimu, dan semua senyumku rasanya sia-sia. Kau yang sudah menatapku lekat-lekat akhirnya berpaling; tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkanku sendiri lagi, seakan aku patut ditinggalkan semua orang.
Tunggu, aku butuh senyumku kembali saat aku bersamamu! Kumohon.Aku kembali mendapati diriku ditengah kesunyian malam. Tersenyum kecut kepada diriku sendiri, mendapati harapan tengah malamku pupus begitu saja. Tapi, pupus? Sungguh? Lalu mengapa aku berusaha untuk tidak berharap lagi? Aku sungguh tak mengerti.
Yang aku tahu; Aku bukan siapa siapa, hanya orang yang kau percaya untuk menyimpan kerapuhanmu. Dan ketika kau berpaling dariku, aku tak punya kuasa apa-apa untuk menahanmu, kawan! Kau tahu yang terbaik untukmu, dan senyumku bukan kebahagiaan yang kamu cari. Maaf, aku sempat menyalahkanmu atas kebodohanku.
Suatu saat aku bertemu denganmu, kau menyapaku layaknya teman lama. Seberkas rindu merayap namun terlalu lemah untuk disampaikan. Namun, aku merasa asing. Setelah menghabiskan waktu menyembuhkan luka ini, kau terlihat seakan tidak pernah terjadi apa apa diantara kita. Dan fakta itu membuatku berantakan, kawan!
So don't forget to dream and reach your own 7th sky
Sampai jumpa di entri selanjutnya. Dank Je!